…saya dan 2 teman (sebut saja Y dan Z, bukan inisial asli) ngobrol. Ceritanya si Y ini kesengsem sama teman labnya si Z yang kata si Z biasa aja tapi modis. Masih kata si Z, kalau temannya ini ke lab jarang pake celana. Kan cewek, biasa aja kan kalo ga pake celana (pake rok, misalnya)? Masalahnya adalah, beda agama kewarganegaraan.
UPDATE: Beberapa kalimat dihapus, karena saya salah tulis. Saya lupa mereka ngomong apa secara detil 
Nah, kita biarkan si Y dengan kisah cintanya. Sebenarnya saya mendukung pernikahan yang kedua mempelainya berbeda, termasuk beda kewarganegaraan. Pasangan yang berbeda jenis kelamin saja saya dukung, apalagi cuma beda kewarganegaraan
–> logika yang aneh
. Namun demikian saya jadi kepikiran, sejauh apa sih saya bisa mendukung itu? Sepertinya tidak terlalu jauh. Jujur saja saya ini takut tertarik dengan orang yang berasal dari negara yang "aneh", terutama kalau berasal dari keluarga yang "aneh". Jangan protes dulu, tolong lihat contoh kasus di bawah ini.
Nah, FYI di kelas saya banyak orang Myanmar (atau namanya berbau Myanmar). Sialnya, waktu semester sudah selesai, saya baru tahu kalau ada teman sekelas yang mirip sekali dengan mantan calon saya yang kedua, aka The 2nd! OMG…kenapa baru sekarang tahunya? Tapi saya mikir-mikir, SEANDAINYA suka sama dia, namanya kok bau Myanmar, gimana kalo dia keluarga junta? Seandainya bukan, gimana kalo dia keluarga pemberontak? Gimana kalo dia adalah ujung tombak pemberontakan?? Ampun!!! Bisa-bisa saya jadi buronan pemerintah Myanmar!! Saya cuma mau hidup damai!!! (Ini maksud saya dengan "aneh": junta itu aneh kalau menurut saya).
Nah, apakah saya paranoid? Apakah saya tidak konsisten? Apakah saya rasis? Apakah saya pilih-pilih? Apakah saya terlalu banyak mikir? Apakah saya tidak logis? Apakah saya tampan? Apakah saya ga mutu? Apakah saya apa? Apakah saya berpikir terlalu jauh? Bukankah cinta itu nomer 1?
"…NAH, OMONG AJA YANG GEDHE. MBOK NGACA DULU, EMANGNYA DIA MAU SAMA KAMU!?!?!?!?" teriak Cupid.
