Tue 9th Dec, 2008, Outside World, Reflection

Ternyata Aku Salah

Aku pikir negeri ini negeri kemakmuran.
Aku pikir negeri ini negeri kedamaian.
Aku pikir negeri ini negeri kesejahteraan.
Aku pikir negeri ini negeri impian.

Ternyata aku salah.
Negeri ini seperti halnya negeri yang lain, punya kelebihan dan kekurangan.

Konon ada seseorang yang mengeluhkan kesulitan mendapat kerja (diskriminasi?). Orang dengan usia nanggung (terlalu muda untuk tua, terlalu tua untuk muda), seperti yang akan dicapainya beberapa tahun kemudian, susah mendapat pekerjaan. Hal yang menyedihkan terjadi. Seorang anak muda cerdas dan berbakat mencemoohnya dan mengata-ngatainya sebagai “kelas rendah”. Dan kisah pun berlanjut.

Tanpa bermaksud menyombong, dan justru mengungkap sisi burukku. Aku pernah dalam posisi seperti sang murid berbakat itu. Dan jelas itu salah. Elitisme itu menyebalkan. Arogansi itu menyebalkan.

Itu pertama.

Yang kedua.

Ternyata tidak semua orang ikut menikmati kemajuan ekonomi negeri ini. Ada orang tua (92 th) yang harus hidup sendiri. Ada orang yang kamar apartemennya berserangga, tidak bisa membayar beaya pengusiran serangga karena hidupnya pas-pasan, hanya bisa bergantung pada jaminan sosial. Ada orang bunuh diri gara-gara terlibat hutang (dan ironisnya, meninggalkan sang istri sendirian berjuang melunasi hutang).

“Kelas rendah”, eh?

Dulu aku tidak mengira semua ini bakal ada. Aku lihat di papan pengumuman di stasiun, selebaran mengenai tunjangan bagi orang tua. Oh, aku pikir ini fasilitas biasa bagi orang jompo. Aku dengar gerejaku mengadakan bakti sosial, dan aku heran, siapa yang mau ditolong di negeri seperti ini? Dan aku semakin bingung lagi melihat anak-anak seumuran SMP yang masih berseragam sekolah meminta sumbangan. Kepada siapakah uang itu akan diserahkan?

Ternyata aku salah.

Lalu?
——————–
PS: Setidaknya ada berita “baik” kali ini. Orang-orang memberi sumbangan bagi keluarga yang ditinggalkan. Salah duanya adalah pedagang yang cukup sukses, dan juga seorang kontraktor, yang keduanya pernah merasakan hidup sengsara di bawah garis kemiskinan semasa kecilnya.

PS2: For those whose blogs are linked, my apology for not asking permission beforehand.

22 Comments »

Right Click Here for TrackBack URI

  1. Comment by Ardianto, December 9, 2008 @ 12:45 pm

    Ternyata yang seperti itu di mana-mana ada…
    Nggak cuma di sini aja…

    Cuma ya, di sini kuantitasnya lebih banyak…

    Gravatar Image
  2. Comment by lambrtz, December 9, 2008 @ 7:07 pm

    Lha penduduknya aja banyakan Indonesia :P

    Gravatar Image
  3. Comment by emina, December 9, 2008 @ 8:16 pm

    lha,emang anda tinggal dimana, mas lambrtz?
    mesti tau dlu baru bisa komen, hehe :mrgreen:

    Gravatar Image
  4. Comment by lambrtz, December 9, 2008 @ 8:57 pm

    Saya tinggal di Singapore. :)

    BTW kalau mau kenal saya lebih lanjut silakan lihat About Me v2.0.
    (Sekalian promosi, soalnya habis ngedit besar-besaran) :P

    Gravatar Image
  5. Comment by Catshade, December 11, 2008 @ 2:18 am

    Hihihi, Singapura (dan Malaysia) cuma lebih jago aja dari Indonesia kalo soal nutup-nutupi hal kayak ginian dari persepsi masyarakat internasional :P

    Gravatar Image
  6. Comment by LiRoesdy, December 11, 2008 @ 6:57 pm

    @ Catshade

    yup.. makanya yang kelihatan dari negara-negara maju / modern itu selalu yang bagus-bagus padahal dibaliknya… ya mungkin untuk menjaga image :???:

    Gravatar Image
  7. Comment by lambrtz, December 11, 2008 @ 9:08 pm

    @Catshade + LiRoesdy
    Yang dimaksud kasus pertama atau kedua? Kalau kasus pertama ini sudah mencapai tingkat nasional. Spoiled kid kayanya.

    Kalau yang kedua (kemiskinan), well…kebanyakan negara di dunia memang memiliki masalah ini. Link 1, link 2.

    Sebenarnya dibilang menutup-nutupi juga IMO ga bisa sih. Kalo ditutup-tutupi, pasti dah ditutup itu situs+blognya. Saya juga bisa nemuin gitu kok :P
    Ga terlalu mencuat di dunia internasional saja mungkin :?

    cuma lebih jago aja

    Saya kok tidak terlalu sepakat dengan yang ini (”cuma” + “aja”). Setidaknya universitas di Singapore lebih banyak bikin publikasi dan namanya lebih mentereng di dunia internasional daripada universitas di Indonesia :P
    Yah, seperti saya tulis di atas, semua punya kelebihan dan kekurangan lah.

    Kalau Malaysia…dunno. Sila tanya Geddoe :P

    Gravatar Image
  8. Comment by lambrtz, December 11, 2008 @ 10:29 pm

    PS3: Empat kalimat teratas itu maksudnya dari sisi WN Singapore. Maksud saya, saya kira dulunya semua WN Singapore itu sejahtera dan hidupnya damai.

    Gravatar Image
  9. Comment by jensen99, December 12, 2008 @ 12:42 am

    Ternyata salah ya? Coba Brunei deh… :mrgreen:

    Elitisme itu menyebalkan. Stuju… :evil:

    Gravatar Image
  10. Comment by Disc-Co, December 12, 2008 @ 7:05 am

    Saya dulu juga mengira kalo WN Singapura itu hidupnya terkandung dalam 4 kalimat teratas sampean. Maklum, kalo liburan saya cuman ngendok di Orchard. :lol:

    Gravatar Image
  11. Comment by lambrtz, December 12, 2008 @ 7:15 am

    @jensen99
    Brunei? Saya kok ga yakin cerita seperti ini ga ada :?

    @Disc-Co
    Lha, bukannya di Orchard juga ada itu pengamen yang duduknya berdekatan itu? (o_0)?

    Gravatar Image
  12. Comment by Disc-Co, December 12, 2008 @ 5:42 pm

    @lambrtz
    ah, pengamennya high-tech, pake speaker dkk. bandingkan dengan pengamen yg cuman bawa kicrikan. :lol:

    Gravatar Image
  13. Comment by emina, December 12, 2008 @ 9:36 pm

    ok saya datng lagi.
    hm, singapore ya? wah, saya kira dari dulu negeri kayak singapore itu lebih maju dan berkembang dalam segala hal..yah, dibandingkan indon?
    tapi kayaknya mslh kayak gitu emg dimana2 ada ya…apalagi saya kan blm pernah ke luar negeri jadi cuman denger dan liat doang dari berbagai persepsi orang/ media…
    duh jadi ingin ke luar negeri…suka ngiri…

    Gravatar Image
  14. Comment by lambrtz, December 12, 2008 @ 10:39 pm

    @Disc-Co
    Memang pengamen yang bermodal :P
    Tapi dulu masang tulisan, mengakunya sih orang yang “membutuhkan” (you know what I mean lah).

    @emina

    saya kira dari dulu negeri kayak singapore itu lebih maju dan berkembang dalam segala hal..yah, dibandingkan indon?

    Kalau dibilang dalam segala hal…ga juga. Dalam skala internasional, musik Indonesia (bukan yang menye-menye ituuh) lebih terkenal dibandingkan musik Singapore. Balawan, Mocca…saya dulu di sini nonton Agrikulture :P
    Bahkan yang mainstream juga lumayan terkenal di sini. Ungu pernah konser. Saya pernah nemuin CD Radja.

    duh jadi ingin ke luar negeri…suka ngiri…

    Ngikutin ajarannya Mr Mbelgedez aja ;)

    Ya ngumpulin dikit-dikit, selama setaon pasti deh kekumpul…. :D

    (diambil dari sini)

    Gravatar Image
  15. Comment by yanderzon, December 15, 2008 @ 6:40 pm

    coba tujujkan di negara mana di dunia ini yang gak ada orang miskinnya? Yang gak ada orang menderita dan merana karena kesulitan ekonomi…!!!

    Gravatar Image
  16. Comment by lambrtz, December 15, 2008 @ 6:45 pm

    Ya makanya itu, saya ga yakin ada.
    Kalau adapun, mungkin negara semacam Vatikan yang isinya (cuma?) biarawan/ti, atau Monaco (saya pun ga yakin ga ada untuk yang ini, cuma dibandingkan dengan negara lain di dunia, sepertinya cukup rendah, CMIIW).

    UPDATE: sepertinya memang ga ada yang miskin di Monaco. Seperti ditulis di sini: [link]

    …and extreme poverty is virtually non-existent

    Gravatar Image
  17. Comment by zam, December 16, 2008 @ 11:34 am

    hehe.. mending tinggal di negeri sendiri atau negeri orang, bro?

    Gravatar Image
  18. Comment by lambrtz, December 16, 2008 @ 11:42 am

    Wah kedatangan seleblog 8O

    *gelar karpet*
    *ngadain pesta penyambutan*

    :mrgreen:

    Enak tinggal di surga :mrgreen:
    Kalo sementara ini ya enak tinggal di apartemen yang aku tinggali sekarang ini. Ga terlalu panas :P
    Tapi tetep kangen makanan Indon yang autentich. Makanan Indon di sini ga begitu sama rasanya sama di kampung halaman. :(

    Gravatar Image
  19. Comment by gentole, December 18, 2008 @ 11:05 am

    Wah…saya sih cuma bentaran aja tuh ke negeri tetangga, gak ngeh lah yang kayak begitu. Sepintas mah aman dan sentosa tuh kota/negara.

    Gravatar Image
  20. Comment by lambrtz, December 18, 2008 @ 11:30 am

    Sepintas juga demikian Mas. Tapi dulu iseng-iseng cari di Wikipedia dan Blogosphere Singapore, ketemulah yang kaya gini. Ya ternyata ada juga di Singapore tragedi semacam ini.

    Gravatar Image
  21. Comment by Korporaal Soebambang Ramboetan Notodiprodjo, December 19, 2008 @ 1:44 am

    Hehehe, tahi tetangga emang kesannya selalu lebih coklat. Sekalinya udah pindah, malah kesannya bakal melemah. :P

    Utopia itu tak ada Bung! :mrgreen:

    Gravatar Image
  22. Comment by lambrtz, December 19, 2008 @ 1:54 am

    Apa pula nama sepanjang ini 8O

    Wah kalimat pertama Tuan susah dicerna :?
    Apa maksudnya buruk orang lain terlihat lebih buruk dari buruknya kita?

    Kalimat kedua, lebih bingung lagi.
    Apa maksudnya kalo kita pindah, keburukan tetangga ini bakal terasa biasa saja?

    Kalimat ketiga…coba aja dulu ke Monaco :mrgreen: :lol:

    Ya tapi overall saya memang salah. Dulu saya pikir semua WN sini makmur.

    Gravatar Image

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>


I tried to remove captcha but blogsome keep asking for such authentication. Please fill the text. Sorry for the inconvenience.


Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.