Ternyata Aku Salah
Aku pikir negeri ini negeri kemakmuran.
Aku pikir negeri ini negeri kedamaian.
Aku pikir negeri ini negeri kesejahteraan.
Aku pikir negeri ini negeri impian.
Ternyata aku salah.
Negeri ini seperti halnya negeri yang lain, punya kelebihan dan kekurangan.
Konon ada seseorang yang mengeluhkan kesulitan mendapat kerja (diskriminasi?). Orang dengan usia nanggung (terlalu muda untuk tua, terlalu tua untuk muda), seperti yang akan dicapainya beberapa tahun kemudian, susah mendapat pekerjaan. Hal yang menyedihkan terjadi. Seorang anak muda cerdas dan berbakat mencemoohnya dan mengata-ngatainya sebagai “kelas rendah”. Dan kisah pun berlanjut.
Tanpa bermaksud menyombong, dan justru mengungkap sisi burukku. Aku pernah dalam posisi seperti sang murid berbakat itu. Dan jelas itu salah. Elitisme itu menyebalkan. Arogansi itu menyebalkan.
Itu pertama.
Yang kedua.
Ternyata tidak semua orang ikut menikmati kemajuan ekonomi negeri ini. Ada orang tua (92 th) yang harus hidup sendiri. Ada orang yang kamar apartemennya berserangga, tidak bisa membayar beaya pengusiran serangga karena hidupnya pas-pasan, hanya bisa bergantung pada jaminan sosial. Ada orang bunuh diri gara-gara terlibat hutang (dan ironisnya, meninggalkan sang istri sendirian berjuang melunasi hutang).
“Kelas rendah”, eh?
Dulu aku tidak mengira semua ini bakal ada. Aku lihat di papan pengumuman di stasiun, selebaran mengenai tunjangan bagi orang tua. Oh, aku pikir ini fasilitas biasa bagi orang jompo. Aku dengar gerejaku mengadakan bakti sosial, dan aku heran, siapa yang mau ditolong di negeri seperti ini? Dan aku semakin bingung lagi melihat anak-anak seumuran SMP yang masih berseragam sekolah meminta sumbangan. Kepada siapakah uang itu akan diserahkan?
Ternyata aku salah.
Lalu?
——————–
PS: Setidaknya ada berita “baik” kali ini. Orang-orang memberi sumbangan bagi keluarga yang ditinggalkan. Salah duanya adalah pedagang yang cukup sukses, dan juga seorang kontraktor, yang keduanya pernah merasakan hidup sengsara di bawah garis kemiskinan semasa kecilnya.
PS2: For those whose blogs are linked, my apology for not asking permission beforehand.


Ternyata yang seperti itu di mana-mana ada…
Nggak cuma di sini aja…
Cuma ya, di sini kuantitasnya lebih banyak…
Lha penduduknya aja banyakan Indonesia
lha,emang anda tinggal dimana, mas lambrtz?
mesti tau dlu baru bisa komen, hehe
Saya tinggal di Singapore.
BTW kalau mau kenal saya lebih lanjut silakan lihat About Me v2.0.
(Sekalian promosi, soalnya habis ngedit besar-besaran)
Hihihi, Singapura (dan Malaysia) cuma lebih jago aja dari Indonesia kalo soal nutup-nutupi hal kayak ginian dari persepsi masyarakat internasional
@ Catshade
yup.. makanya yang kelihatan dari negara-negara maju / modern itu selalu yang bagus-bagus padahal dibaliknya… ya mungkin untuk menjaga image
@Catshade + LiRoesdy
Yang dimaksud kasus pertama atau kedua? Kalau kasus pertama ini sudah mencapai tingkat nasional. Spoiled kid kayanya.
Kalau yang kedua (kemiskinan), well…kebanyakan negara di dunia memang memiliki masalah ini. Link 1, link 2.
Sebenarnya dibilang menutup-nutupi juga IMO ga bisa sih. Kalo ditutup-tutupi, pasti dah ditutup itu situs+blognya. Saya juga bisa nemuin gitu kok
Ga terlalu mencuat di dunia internasional saja mungkin
Saya kok tidak terlalu sepakat dengan yang ini (”cuma” + “aja”). Setidaknya universitas di Singapore lebih banyak bikin publikasi dan namanya lebih mentereng di dunia internasional daripada universitas di Indonesia
Yah, seperti saya tulis di atas, semua punya kelebihan dan kekurangan lah.
Kalau Malaysia…dunno. Sila tanya Geddoe
PS3: Empat kalimat teratas itu maksudnya dari sisi WN Singapore. Maksud saya, saya kira dulunya semua WN Singapore itu sejahtera dan hidupnya damai.
Ternyata salah ya? Coba Brunei deh…
Elitisme itu menyebalkan. Stuju…
Saya dulu juga mengira kalo WN Singapura itu hidupnya terkandung dalam 4 kalimat teratas sampean. Maklum, kalo liburan saya cuman ngendok di Orchard.
@jensen99
Brunei? Saya kok ga yakin cerita seperti ini ga ada
@Disc-Co
Lha, bukannya di Orchard juga ada itu pengamen yang duduknya berdekatan itu? (o_0)?
@lambrtz
ah, pengamennya high-tech, pake speaker dkk. bandingkan dengan pengamen yg cuman bawa kicrikan.
ok saya datng lagi.
hm, singapore ya? wah, saya kira dari dulu negeri kayak singapore itu lebih maju dan berkembang dalam segala hal..yah, dibandingkan indon?
tapi kayaknya mslh kayak gitu emg dimana2 ada ya…apalagi saya kan blm pernah ke luar negeri jadi cuman denger dan liat doang dari berbagai persepsi orang/ media…
duh jadi ingin ke luar negeri…suka ngiri…
@Disc-Co
Memang pengamen yang bermodal
Tapi dulu masang tulisan, mengakunya sih orang yang “membutuhkan” (you know what I mean lah).
@emina
Kalau dibilang dalam segala hal…ga juga. Dalam skala internasional, musik Indonesia (bukan yang menye-menye ituuh) lebih terkenal dibandingkan musik Singapore. Balawan, Mocca…saya dulu di sini nonton Agrikulture
Bahkan yang mainstream juga lumayan terkenal di sini. Ungu pernah konser. Saya pernah nemuin CD Radja.
Ngikutin ajarannya Mr Mbelgedez aja
(diambil dari sini)
coba tujujkan di negara mana di dunia ini yang gak ada orang miskinnya? Yang gak ada orang menderita dan merana karena kesulitan ekonomi…!!!
Ya makanya itu, saya ga yakin ada.
Kalau adapun, mungkin negara semacam Vatikan yang isinya (cuma?) biarawan/ti, atau Monaco (saya pun ga yakin ga ada untuk yang ini, cuma dibandingkan dengan negara lain di dunia, sepertinya cukup rendah, CMIIW).
UPDATE: sepertinya memang ga ada yang miskin di Monaco. Seperti ditulis di sini: [link]
hehe.. mending tinggal di negeri sendiri atau negeri orang, bro?
Wah kedatangan seleblog
*gelar karpet*
*ngadain pesta penyambutan*
Enak tinggal di surga
Kalo sementara ini ya enak tinggal di apartemen yang aku tinggali sekarang ini. Ga terlalu panas
Tapi tetep kangen makanan Indon yang autentich. Makanan Indon di sini ga begitu sama rasanya sama di kampung halaman.
Wah…saya sih cuma bentaran aja tuh ke negeri tetangga, gak ngeh lah yang kayak begitu. Sepintas mah aman dan sentosa tuh kota/negara.
Sepintas juga demikian Mas. Tapi dulu iseng-iseng cari di Wikipedia dan Blogosphere Singapore, ketemulah yang kaya gini. Ya ternyata ada juga di Singapore tragedi semacam ini.
Hehehe, tahi tetangga emang kesannya selalu lebih coklat. Sekalinya udah pindah, malah kesannya bakal melemah.
Utopia itu tak ada Bung!
Apa pula nama sepanjang ini
Wah kalimat pertama Tuan susah dicerna
Apa maksudnya buruk orang lain terlihat lebih buruk dari buruknya kita?
Kalimat kedua, lebih bingung lagi.
Apa maksudnya kalo kita pindah, keburukan tetangga ini bakal terasa biasa saja?
Kalimat ketiga…coba aja dulu ke Monaco
Ya tapi overall saya memang salah. Dulu saya pikir semua WN sini makmur.