Sun 28th Dec, 2008, Inside My Brain, Music, Spiritual, Love, Politics

We Are One

Me religion adherent
You pure atheist
We criticise each other
but we are in love

Before we start cursing
let’s just finish this fight
on this blue battlefield
under a prehistoric ritual

What our child should be
is not important
let her choose
not our right to decide

We are one
we are one
we are one
in the name of Progressivism
—————————————————
huhuhuhu ;;) :mrgreen:

Thu 25th Dec, 2008, Outside World, Sport

About AFF Suzuki Cup 2008

Vietnamese Friend (VF): yesterday was so fun
VF: VN beat Thailand
VF: in Thailand

Me: wew

VF: what a miracle

Me: congratulation then
Me: yeah
Me: you deliver our revenge >:)

VF: haha
VF: we together will throw Thailand to the past
VF: :P

Me: hehehe
—————————————————————————
*masih gemes Indonesia kalah sama SG + TH*

UPDATE 28 Des 2008: dan sekarang dia senang sekali Vietnam menang…

SIGGRAPH Asia is Coming to The Town! (Part 2)

Karena sudah janji, terpaksa saya harus tulis. Sengaja saya tulis dalam Bahasa Indonesia.

Selasa 9 Desember 2008. Saya berangkat bersama Papi Budi (bisa juga lihat di blog dia untuk postingan yang lebih serius) ke Suntec untuk registrasi ulang. Beruntung bagi dia, dia langsung dapat tanda pengenalnya. Sial bagi saya, saya harus nunggu 45 menit karena tanda pengenal saya, yang harusnya saya dapatkan saya itu, tidak ada di kolom W, yang merupakan huruf pertama nama belakang saya. Di samping saya ada mister-mister yang mengalami nasib yang sama. Bedanya, beliau terkesan rada mangkel, kalo saya nyantai ajah…hahaha :lol: . Sembari menunggu, saya dan Papi Budi berjalan-jalan, dan kemudian berkenalan dengan Mobeen, mahasiswa lab sebelah asal Pakistan yang ternyata menjadi salah satu panitia konferensi. BTW, kapan ya saya bisa punya jenggot kaya dia? :?

Rabu, 11 Desember 2008. Pagi, datang agak telat (mana saya tahu kalo jalan dekat NTU itu kalo pagi macet, la ga pernah keluar pagi), saya menghadiri course Interactive Massive Model Rendering sampai sore. Ga begitu ngerti, tapi ya sudahlah -__- . Inti kuliah ini adalah bagaimana komputer bisa menampilkan objek yang besar dengan frame per second yang cukup tinggi sehingga memberikan efek interaktivitas bagi pengguna. Tantangan utamanya adalah…ya struktur data yang besar itu.

Saat istirahat makan siang saya berkenalan dengan beberapa teman dari ruang lab utama (FYI, saya ngendon ga di ruang utama, tapi ruang baru). Saya juga membeli sebuah souvenir yaitu mug SIGGRAPH seharga SGD 15 (duh mahalnya), kemudian juga membeli 2 buah buku ini. Saya salah strategi, karena Sabtunya ada diskon :(

Malamnya, saya pulang bersama Papi Budi dan Mbak Xu Xiang, salah seorang dari ruang lab utama. Setelah sampai di Jurong Point Mall, saya pulang sendiri sementara mereka berdua pacaran belanja. Sebetulnya saya curiga, apa Papi Budi ini ada apa-apa dengan Mbak Xu Xiang, kok suka banget nggodain :?

*ampun Papi xP *

Kamis, 11 Desember 2008. Saya datang telat sekitar 30 menit. Lha gimana lagi. Nguantuk pol, karena saya pulang hari sebelumnya cukup malam sementara harus blogwalking mengerjakan tugas dari bossnya lab. Sesi pertama yang saya datangi adalah GPU-based Method. Karena datang telat, saya ga bisa ngikuti presentasi yang saya nantikan, GPU-based Crowd Simulation. FYI, 3 presentator pertama dari AMD, salah satunya adalah Joshua Barczak, dan yang terakhir Mbak ini: [link]

Sesi kedua, karena tidak ada yang menarik bagi saya, saya memilih jalan-jalan melihat pameran Emerging Technologies bersama Papi Budi dan teman dari lab utama, William Lai. Pada sesi ini dipamerkan barang-barang seni elektronik dan juga teknologi antarmuka mutakhir. Seperti dugaan saya, pameran ini dikuasai orang Jepang. Pada bidang Ilmu Komputer, mereka maju pada topik ini. Salah satu yang menarik buat saya adalah program theRelativity bikinan Jun Fujiki. Susah menjelaskannya dengan kata-kata, jadi lebih baik kunjungi websitenya saja. Intinya: bagaimana caranya seseorang bisa berjalan dengan biasa pada platform yang tidak tersambung. Teknik yang dia buat dipakai dalam game untuk PS3 dan PSP, Echochrome.

Kami juga menyempatkan diri melihat presentasi poster. Dan lagi-lagi Papi Budi mengeluarkan teknik rayuannya. Kali ini korbannya adalah seorang mahasiswi dari Korea yang kuliah di Jepang. Tobat Papi, tobaaat..sudah tua…

*dilempar tombak*

Ehm…waktu makan siang, saya ketemu Mbak Meng Yang yang barusan presentasi lagi makan juga, mungkin sama ibunya. Kok saya ga kenalan ya? :(

(gimana Papi, apakah rekues Facebooknya diapprove?)

Setelah makan siang, saya mengikuti sesi Technical Paper dengan topik Character Animation, yang merupakan bidang peminatan saya. Ada sebuah paper yang cukup menarik yang dipresentasikan oleh Hubert Shum. Kira-kira isinya sebagai berikut: dengan masukan beberapa rekaman jurus beladiri hasil mocap, susunlah sebuah adegan gangbang satu orang karakter utama melawan banyak orang ala film laga. Karena ada yang kurang jelas, saya pun memberi pertanyaan kepadanya. Bukan menguji, bertanya saja.

Setelah selesai, saya mengikuti course Virtual Human yang dibawakan oleh suami istri pionir manusia virtual, Daniel Thalmann dan Nadia Magnenat Thalmann. Pionir, karena sebelum ada orang lain melakukannya, mereka duluan yang mengadakan penelitian untuk membuat manusia palsu, baik di komputer maupun robot. Menariknya, walaupun aplikasinya sama, mereka menggunakan pendekatan yang berbeda. Daniel menggunakan pendekatan Kecerdasan Buatan, sedangkan Nadia, sesuai gelar undergraduatenya, Psikologi. Oh ya, sekedar info, karya mereka yang terkenal adalah Marilyn Monroe virtual, yang pada 1980an menjadi state of the art.

Malam pun datang dan kami pun pulang. Kali ini kayanya saya cuma berdua sama Papi Budi. Lupa saya, padahal baru 2 minggu yang lalu…

Jumat, 12 Desember 2008. Saya memulai hari dengan mengambil course Matematis yang berat. Discrete Differential Geometry. Sebenarnya saya tertarik dengan aplikasinya pada Animasi berbasis Fisika, tapi ternyata cakupannya lebih luas, jadi ya…ga begitu paham ~__~. Namun harus saya akui, ketiga Profesor yang mengajar course ini mengerikan, dan merupakan kombinasi yang unik. Mengerikan, karena mereka menjelaskan dengan gamblang dengan cara masing-masing. Bukankah seperti itu guru yang hebat? ;) Kombinasi yang unik, karena terdiri atas 2 orang dengan tampang serius dan satu orang yang tampangnya biasa saja :mrgreen: . Peter Schröder, dengan rambut gondrongnya dan T-shirt -nya yang melekat di badan serta dimasukkan ke celana jeans, mengingatkan saya pada sosok Paul Michael Levesque aka Triple H. Max Wardetzky, yang menurut saya paling mudah dimengerti, berkat analogi yang sering dia pakai. Mathieu Desbrun, penampilannya lebih santai, berbeda dengan dua sebelumnya, tetapi saya yakin beliau menyimpan suatu pemikiran filosofis yang luar biasa. Kenapa? Karena pada salah satu pertanyaan yang dia berikan tersisip sebuah pilihan yang ternyata adalah jawaban atas hidup, dunia, dan segalanya! 8O

:lol:

Saya harus menyelesaikan course ini sebelum sadar bahwa di buku pedoman course ini dilabeli “Advanced”. Yah, pantesan banyak ga pahamnya ~.~

Malamnya, setelah acara selesai, kami mengikuti makan-makan makan malam, standing party, di Marina Barrage. Makan malam termewah yang pernah saya ikuti. Minumannya champagne (ERRATUM: wine) (walaupun saya ga begitu sreg minum minuman beralkohol, karena saya baru tahu waktu minuman dah habis setengah, ya sudah lanjutkan saja, lagipula sekali-sekali juga gakpapa, belum tentu 5 tahun sekali minum ini :lol: ). Makanannya seperti makanan Melayu, satenya seperti sate Ponorogo. Ya, belajar dari pengalaman menghadiri pernikahan model standing party begini yang telah lalu, saat itu saya ga ambil banyak. Kata orang, kekenyangan itu ga baik. Ambillah secukupnya :)

Saya di sini muter-muter lewat jembatannya. Sayang ga bawa kamera. Kamera HP saya ga bagus untuk motret malam-malam. Aslinya di konferensi ga boleh motret, tapi sebenarnya kalo dah acara di luar begini gakpapa. Lagipula saya ga punya kamera :mrgreen: .

Setelah capek jalan-jalan, ngrecoki boss kami yang lagi nostalgia sama keluarga mantan bossnya, dan akhirnya bisa bersalaman dengan beliau, kami menghampiri teman-teman lab. Dari sini saya semakin sadar kalau…yah, silakan baca post saya yang ini: [link]. Kemudian kami berdua jalan lagi ke dermaga, terus pulang deh.

Sebenarnya kalo berduaan sama cewek asik juga, tapi kok ya saya berduaan sama Papi Budi x( .

Sabtu, 13 Desember 2008. Hari terakhir. Saya banyak mengikuti sesi Technical Paper dan Sketches. Sesi pertama adalah Visual Simulation, bagaimana mensimulasikan gejala alam dengan komputer. Salah satu yang dipresentasikan adalah simulasi api untuk film Hellboy 2.

Sesi kedua yang saya ikuti adalah Non-Photorealistic Rendering. Seperti kita lihat pada game maupun film, biasanya animasi menggunakan model 3D hasilnya ya 3D, tapi dengan teknik ini kita bisa membuat animasi 2D dengan model 3D. Efek 2D seperti cat air maupun arsiran bisa ditampakkan pada animasi. Di sini saya mengajukan sebuah pertanyaan, tapi kok kesannya cupu ya? :? Tebar pesona gagal deh

Setelah makan siang, saya mengikuti sesi Urban Modelling. Ya itu, membuat kota secara otomatis. Sebenarnya tidak terlalu cocok dengan riset saya, tapi ternyata ada teknik yang menginspirasi untuk menghubungkan sebuah titik dengan titik lain dalam suatu lingkungan maya.

Untuk sesi terakhir, saya masuk ke sesi Physically-based Animation. Kita memprogram lingkungan untuk mensimulasikan hukum Fisika. Seperti biasa, kebanyakan berurusan dengan Fluid Dynamics. Kok ga ada yang simulasi Fisika Kuantum, String Theory, dll gitu ya? :?

Mbahmu

Ah ya, saya sebenarnya tertarik untuk meneliti ini nanti waktu PhD. Biar agak ilmiah gitu ;;)

Setelah semua sesi resmi berakhir, sekarang kami menonton film animasi di Electronic Theatre. Ya, selain para ilmuwan, SIGGRAPH juga memiliki sesi ini sebagai ajang unjuk gigi para artis. Saya sudah lupa banyak filmnya (hehe) tapi ada beberapa yang saya ingat. Adegan dari Appleseed: Ex Machina. Sudah pernah nonton bajakannya sih, tapi teknik Non-Photorealistic Rendering yang dipakai keren. Film lain yang menarik buat saya: E.T.A., Fly Out Blue, Hugh, Jungle Jail, Kudan (cuma trailer), Replay, This Way Up (cuma trailer).

Terus pulang, bareng-bareng. Sesampainya di Jurong Point, karena saya sendiri yang naik bus 199 , saya mengucapkan kata perpisahan ke yang lainnya. “Zàijiàn!:)

Minggu, 14 Desember 2008. Bangun kesiangan. Ga ke gereja.

Selesai.

Sekedar bukti kalo ini bukan hoax:

Oh iya, sebagai bonus, ini makanan yang saya dan Papi Budi makan saat sebuah makan malam di Suntec (bukan yang di Marina Barrage). Saya makan nasi biryani lauk ayam (foto bawah), Papi makan Thunder Tea Rice (foto paling bawah) (namanya dahsyaaat!!1 8O ).

——————————————

Jadi, prestasi saya adalah:

  • Pertama kalinya minum champagne (ERRATUM: wine). Rasanya? Pahit! Ga suka saya! :|

  • Pertama kalinya ngobrol dengan orang Hongkong.

  • Pertama kalinya melihat orang Israel.

  • Pertama kalinya makan makanan Korea.

  • Menanyakan beberapa pertanyaan di sesi Technical Paper. Semoga bukan orang Indonesia pertama yang menjadi penanya di sesi ini di konferensi SIGGRAPH sebelumnya.

  • Bersalaman dengan bossnya boss, Tomoyuki Nishita.

  • Bertemu dengan suami istri pionir manusia virtual.

  • Melihat beberapa tokoh Computer Graphics lain, seperti Nelson Max, Kurt Akeley, dll. Coba kalau ada Ivan Sutherland, pasti lebih maknyus lagi. Apalagi Alan Turing, bakal semakin horor…heheh

Change Your Citizenship. Wanna Try?

Long long centuries ago I wrote about Anggun who changed her citizenship into French, but still has the feeling as Indonesian and dedicates her body and soul to Indonesia *halah*. I have also read about Indonesian-born Andy Tielman, the frontman of Tielman Brothers, among the first rock n roll bands in the world, and probably the first in Netherland, the first who owned Gibson Les Paul in Netherland (the list won’t stop), with their song, Stranger in My Land (please play the video below to find out what this song is about).


But now it is my friend that faces the same dilemma. He is an Indonesian physics PhD student who almost graduates (3-4 years from now) (the PhD programme itself takes 4 years, so, yeah, he is still in his first year :P ) and plans to do postdoc afterwards. The postdoc programme that he is interested to apply urges him to change citizenship. So, which one should he take? Taking this programme in change for his citizenship, or seeking another programme but with “longer and more winding road”? Currently he decides not to take this programme and look for another programme that does not need him to change citizenship. His senior, a Chinese citizen, was also offered the same programme, but she declined, since “She is a proud Chinese”, said my friend about her.

I read his catharsis note in his Facebook, and, yeah, it is interesting to me, who often thinks about this citizenship and nationality issue. While he and several others persisted to be Indonesian by citizenship, a prominent figure in Indonesian Theoretical Physics Community who has been working abroad for several years pointed out the differences between concepts of nationality and citizenship. He said that, while he could change his passport 100x, he would be Indonesian by nationality till death do us part.

The risk of citizenship change is not easy to handle anyway. Yes, even though you can enjoy facilities offered by your new country, it will be harder to go back to your home country when you miss her. You know: visa, travel, the like. You can lose things commonly found in your home country but hard to find in your new country. Say, I change my citizenship to Singaporean. In an island this narrow, chances to have private home like in Indonesia is very scarce. Lastly, I don’t need to say that you have to obey rules that may sound weird in your previous country, but are applied in your new country. If I were to be a Singaporean, South Korean, or even Israeli, for example, my descendants (or maybe I) would need to enter NS, something not present in Indonesia.

…oh, OK, that was not the last. Another obstacle is facing denunciation from ex-fellows of citizenship. Two examples. A member of Beasiswa mailing list, that I join, assume his name is Z, a humanity NGO worker, wrote his opinion and plan to change his citizenship to Canadian in order to achieve higher position in his career more easily. Yeaaah…as you can predict, some members, either via PM directly to him or the public folder in mailing list, stated their disagreement toward his opinion. One even explicitly expressed his disgust, stating that Z only wanted the bling bling money.

Another example. Not exactly about citizenship change. I asked some friends about their opinions regarding Indonesian expats working abroad, especially in the field of academia. I refer to some Indonesians that take professorships in universities in other countries. Some friends accused them of not being nationalists, and of betraying their home country. If they were nationalists, they would be working in Indonesian universities. Being a perfect Devil’s Advocate (you know what I mean lah…heheheh :twisted: ), I argued that had they worked in Indonesia, they could not get the same achievements. Then I showed them some foreign researchers. The late Abdus Salam, the first Nobel Laurate from Pakistan, who worked in Imperial College London, founded The Abdus Salam International Centre for Theoretical Physics, enabling physics researchers from developing countries to contribute to development of Theoretical Physics. Another example is Lotfi Zadeh, Iranian of Azeri descendant Professor Emeritus in University of California at Berkeley, the inventor of Fuzzy Logic. If they worked in their home countries, can they achieve that? I forget how this ended up. It seemed like I won the debate :mrgreen: .

If people think this way about Indonesian professors working in universities abroad, how will they respond if one of their friends converts citizenship? What will they practically do?

I would like to mention some advantages of “giving your soul to another country”. I have ever watched a badminton match between two European countries in a prestigious competition, now in final phase. Guess what. All players are Chinese. If I were a Chinese, I would be really really proud of my nation.

Now take a look at some universities in USA and UK. Any universities: Oxbridge, Ivy League, mid-class universities, and count how many Chinese- and Indian-educated professors are there. Again, if I were a Chinese or Indian, I would be really really proud.

My opinion about this matter evoluted over time. When I was a child, having been fed up by the doctrine of nationalism in school, I decided not to change citizenship, ever! I wouldn’t even live permanently abroad, in contrast to what my father told me. I forgot why, but somehow at a point when I was really disappointed to Indonesia, I searched for procedures to change citizenship, and among the first targets was Scandinavian country. Hell, what countries are better to live in than them? OK, then I changed my mind. I thought that God won’t put me inside Indonesia if I cannot do something for her (WOW WOW NOW I AM TURNING RELIGIOUS LOLOLOL). I won’t change my citizenship unless it is very critical, e.g. if I will be persecuted in my own country. Now I changed my mind again. If I can contribute to humanity better, it’s OK to change citizenship. I can still visit my family and friends in Indonesia anyway, or even contribute to development of Indonesia, just like what my father said, “live outside, work for inside”. Somewhat fluctuative, eh? :P

So, my brother, whatever option you choose, go to Cambridge, Oxford, or Harvard lah. Find a wife first and then you two move there to contribute to humanity. Can can? :D

*halah*
(halah)
:halah:
~halaaa~~~~hh~

To conclude this post, let me half-quote Lotfi Zadeh.

The question really isn’t whether I’m American, Russian, Iranian, Azerbaijani, or anything else. The question is, what can I do for humanity and civilization?

————————————————————————
BTW, another quote of the day.

“Breaking a pledge…breaking a pledge of loyalty neutrality is a Knight Journalist’s highest disgrace. But…But I am…I am…I AM!!! I AM a human first and a Knight Journalist second!!! I don’t need your title! I resign myself to your disgrace! But I will never forgive you!!! I can never look idly by while lives are being thrown away!!!”

~ Sir Miklotov in Suikoden II Muntader al-Zaidi in another dimension, an RPG geek, while performing the same action as another him in this dimension

Sun 14th Dec, 2008, My Experience, Catharsis

Zàijiàn

A & B: (ngobrol pake Bahasa Mandarin)

C: Zàijiàn!

A & B: …Zàijiàn… :)

(C pergi)

A: C can speak Mandarin?

D (ga bisa bahasa Mandarin juga): No, he has just started to learn that. He said that it was hard to socialize here if he couldn’t speak Mandarin.

————
PS: Semi-fiksional, semi-faktual.
PS2: zàijiàn = sampai jumpa
PS3: Tulisan SIGGRAPH Part 2 nya nanti dulu ya :)

Tue 9th Dec, 2008, Outside World, Reflection

Ternyata Aku Salah

Aku pikir negeri ini negeri kemakmuran.
Aku pikir negeri ini negeri kedamaian.
Aku pikir negeri ini negeri kesejahteraan.
Aku pikir negeri ini negeri impian.

Ternyata aku salah.
Negeri ini seperti halnya negeri yang lain, punya kelebihan dan kekurangan.

Konon ada seseorang yang mengeluhkan kesulitan mendapat kerja (diskriminasi?). Orang dengan usia nanggung (terlalu muda untuk tua, terlalu tua untuk muda), seperti yang akan dicapainya beberapa tahun kemudian, susah mendapat pekerjaan. Hal yang menyedihkan terjadi. Seorang anak muda cerdas dan berbakat mencemoohnya dan mengata-ngatainya sebagai “kelas rendah”. Dan kisah pun berlanjut.

Tanpa bermaksud menyombong, dan justru mengungkap sisi burukku. Aku pernah dalam posisi seperti sang murid berbakat itu. Dan jelas itu salah. Elitisme itu menyebalkan. Arogansi itu menyebalkan.

Itu pertama.

Yang kedua.

Ternyata tidak semua orang ikut menikmati kemajuan ekonomi negeri ini. Ada orang tua (92 th) yang harus hidup sendiri. Ada orang yang kamar apartemennya berserangga, tidak bisa membayar beaya pengusiran serangga karena hidupnya pas-pasan, hanya bisa bergantung pada jaminan sosial. Ada orang bunuh diri gara-gara terlibat hutang (dan ironisnya, meninggalkan sang istri sendirian berjuang melunasi hutang).

“Kelas rendah”, eh?

Dulu aku tidak mengira semua ini bakal ada. Aku lihat di papan pengumuman di stasiun, selebaran mengenai tunjangan bagi orang tua. Oh, aku pikir ini fasilitas biasa bagi orang jompo. Aku dengar gerejaku mengadakan bakti sosial, dan aku heran, siapa yang mau ditolong di negeri seperti ini? Dan aku semakin bingung lagi melihat anak-anak seumuran SMP yang masih berseragam sekolah meminta sumbangan. Kepada siapakah uang itu akan diserahkan?

Ternyata aku salah.

Lalu?
——————–
PS: Setidaknya ada berita “baik” kali ini. Orang-orang memberi sumbangan bagi keluarga yang ditinggalkan. Salah duanya adalah pedagang yang cukup sukses, dan juga seorang kontraktor, yang keduanya pernah merasakan hidup sengsara di bawah garis kemiskinan semasa kecilnya.

PS2: For those whose blogs are linked, my apology for not asking permission beforehand.

Sun 7th Dec, 2008, Music

21122012

Dear beloved people
would you please hear me for a while?

Haven’t you heard enough
about our ancestors?
You don’t want to let
what happened to them
occur again

They ruined Cydonia!
what was fertile soil
is now red arid field of rock!
And after we moved here
You want to destroy it again?

Please, prevent the Armageddon
The sign becomes clearer
Please, prevent the final war
The time has come closer

[instrumental session]

And somebody out there
is waiting
is summoning
The Zetas

Through their supernatural agents
they spread to ancient people
the good and evil
Through the unseen wave
the revolutionary thought
was sent away
But their big plot
is to provoke us
then destroy us slowly
for their love of ultimate power

In the middle of the upcoming war
They will come as Messiah
propaganda through the horns on their battleships
but they will rule us
with an iron fist
for eternity

Omniscience, omnipotent
controlling the contradiction
Their might is beyond God’s himself
Once they’re here
Nothing can be done to escape

So please prevent the Armageddon
The sign becomes clearer
Please prevent the final war
The time has come closer

Third gold in the last moon from the sun
We’ll start to live
under absolute slavery
Pay attention to the sign
Pay attention
Be ready
This prophetic message
is going to happen
Unless you stop
Unless you stop
Unless you stop
Unless you stop

[celestial noise outro]

—————————————-

*kebanyakan ndengerin Exo-Politics dan Knights of Cydonia-nya Muse*
*tapi kayanya alurnya ga bagus, dan kontradiktif di beberapa bagian*

UPDATE: *OOT*
Barusan cari-cari di Youtube, ada beberapa orang yang mainin Knights of Cydonia pake piano/organ/keyboard. Silakan cek di sini:
Di sini.
Di sini.
Di sini.
Di sini.
Ternyata bisa membuat bulu kuduk berdiri juga :D

SIGGRAPH Asia is Coming to The Town! (Part 1)

Yes, next week I will be attending ACM SIGGRAPH Asia! :D

ACM SIGGRAPH is allegedly the most prestigious Computer Graphics conference in the world. It has been annually held in USA since 1974. SIGGRAPH Asia is basically its “branch” in Asia, to make access by Asian universities easier (attending such a conference in USA is very very very expensive you know. It may take several thousands US dollars). And having the first SIGGRAPH Asia held in Singapore, just about 20 km from where I live, I don’t need to pay hotel fee and only pay a few Singapore Dollars for transportation via MRT.

There is a but.
But.
The entrance fee is very expensiiiiiivvvee!!!!!!
SGD 450 lor…. You ripped me off!! T_T
:mrgreen:

It’s OK. I mean, compared to what I will get, this fee is quite acceptable. This conference will be held in Yokohama next year, and I am not sure if I will have enough budget to attend it…unless I write a paper and get it submitted there, so that I can apply for travel fund from NTU or ACM. :P
Too bad, I only become a visitor now, as I don’t submit any paper. I haven’t finished any research :( .

Oh yeah, the list of accepted papers can be reached here. There will be leading professors in this area such as Daniel Cohen-Or (Tel Aviv University), Paul Debevec (University of Southern California), Jessica Hodgins (Carnegie Mellon University), Henrik Wann Jensen (University of California San Diego), Tomoyuki Nishita (University of Tokyo), and Dinesh Manocha (University of North Carolina - Chapel Hill).
There will also be representatives from a lot of highly respected universities! :D
From Asia, universities from China (either Mainland China, Hong Kong, or Taiwan) and Israel dominate. The rest come from Japan, Singapore, South Korea…

:shock:
Only 5 regions from Asia? I mean, where are universities from India (the IITs), Thailand (the 2nd South East Asian country that has its university listed in HEEACT rank), Malaysia…

OK then, I’ll write again after the event is over. ;)

*written while listening to Röyksopp’s songs*