Karena sudah janji, terpaksa saya harus tulis. Sengaja saya tulis dalam Bahasa Indonesia.
Selasa 9 Desember 2008. Saya berangkat bersama Papi Budi (bisa juga lihat di blog dia untuk postingan yang lebih serius) ke Suntec untuk registrasi ulang. Beruntung bagi dia, dia langsung dapat tanda pengenalnya. Sial bagi saya, saya harus nunggu 45 menit karena tanda pengenal saya, yang harusnya saya dapatkan saya itu, tidak ada di kolom W, yang merupakan huruf pertama nama belakang saya. Di samping saya ada mister-mister yang mengalami nasib yang sama. Bedanya, beliau terkesan rada mangkel, kalo saya nyantai ajah…hahaha
. Sembari menunggu, saya dan Papi Budi berjalan-jalan, dan kemudian berkenalan dengan Mobeen, mahasiswa lab sebelah asal Pakistan yang ternyata menjadi salah satu panitia konferensi. BTW, kapan ya saya bisa punya jenggot kaya dia?
Rabu, 11 Desember 2008. Pagi, datang agak telat (mana saya tahu kalo jalan dekat NTU itu kalo pagi macet, la ga pernah keluar pagi), saya menghadiri course Interactive Massive Model Rendering sampai sore. Ga begitu ngerti, tapi ya sudahlah -__- . Inti kuliah ini adalah bagaimana komputer bisa menampilkan objek yang besar dengan frame per second yang cukup tinggi sehingga memberikan efek interaktivitas bagi pengguna. Tantangan utamanya adalah…ya struktur data yang besar itu.
Saat istirahat makan siang saya berkenalan dengan beberapa teman dari ruang lab utama (FYI, saya ngendon ga di ruang utama, tapi ruang baru). Saya juga membeli sebuah souvenir yaitu mug SIGGRAPH seharga SGD 15 (duh mahalnya), kemudian juga membeli 2 buah buku ini. Saya salah strategi, karena Sabtunya ada diskon

Malamnya, saya pulang bersama Papi Budi dan Mbak Xu Xiang, salah seorang dari ruang lab utama. Setelah sampai di Jurong Point Mall, saya pulang sendiri sementara mereka berdua pacaran belanja. Sebetulnya saya curiga, apa Papi Budi ini ada apa-apa dengan Mbak Xu Xiang, kok suka banget nggodain
*ampun Papi xP *
Kamis, 11 Desember 2008. Saya datang telat sekitar 30 menit. Lha gimana lagi. Nguantuk pol, karena saya pulang hari sebelumnya cukup malam sementara harus blogwalking mengerjakan tugas dari bossnya lab. Sesi pertama yang saya datangi adalah GPU-based Method. Karena datang telat, saya ga bisa ngikuti presentasi yang saya nantikan, GPU-based Crowd Simulation. FYI, 3 presentator pertama dari AMD, salah satunya adalah Joshua Barczak, dan yang terakhir Mbak ini: [link]
Sesi kedua, karena tidak ada yang menarik bagi saya, saya memilih jalan-jalan melihat pameran Emerging Technologies bersama Papi Budi dan teman dari lab utama, William Lai. Pada sesi ini dipamerkan barang-barang seni elektronik dan juga teknologi antarmuka mutakhir. Seperti dugaan saya, pameran ini dikuasai orang Jepang. Pada bidang Ilmu Komputer, mereka maju pada topik ini. Salah satu yang menarik buat saya adalah program theRelativity bikinan Jun Fujiki. Susah menjelaskannya dengan kata-kata, jadi lebih baik kunjungi websitenya saja. Intinya: bagaimana caranya seseorang bisa berjalan dengan biasa pada platform yang tidak tersambung. Teknik yang dia buat dipakai dalam game untuk PS3 dan PSP, Echochrome.
Kami juga menyempatkan diri melihat presentasi poster. Dan lagi-lagi Papi Budi mengeluarkan teknik rayuannya. Kali ini korbannya adalah seorang mahasiswi dari Korea yang kuliah di Jepang. Tobat Papi, tobaaat..sudah tua…
*dilempar tombak*
Ehm…waktu makan siang, saya ketemu Mbak Meng Yang yang barusan presentasi lagi makan juga, mungkin sama ibunya. Kok saya ga kenalan ya?
(gimana Papi, apakah rekues Facebooknya diapprove?)
Setelah makan siang, saya mengikuti sesi Technical Paper dengan topik Character Animation, yang merupakan bidang peminatan saya. Ada sebuah paper yang cukup menarik yang dipresentasikan oleh Hubert Shum. Kira-kira isinya sebagai berikut: dengan masukan beberapa rekaman jurus beladiri hasil mocap, susunlah sebuah adegan gangbang satu orang karakter utama melawan banyak orang ala film laga. Karena ada yang kurang jelas, saya pun memberi pertanyaan kepadanya. Bukan menguji, bertanya saja.
Setelah selesai, saya mengikuti course Virtual Human yang dibawakan oleh suami istri pionir manusia virtual, Daniel Thalmann dan Nadia Magnenat Thalmann. Pionir, karena sebelum ada orang lain melakukannya, mereka duluan yang mengadakan penelitian untuk membuat manusia palsu, baik di komputer maupun robot. Menariknya, walaupun aplikasinya sama, mereka menggunakan pendekatan yang berbeda. Daniel menggunakan pendekatan Kecerdasan Buatan, sedangkan Nadia, sesuai gelar undergraduatenya, Psikologi. Oh ya, sekedar info, karya mereka yang terkenal adalah Marilyn Monroe virtual, yang pada 1980an menjadi state of the art.
Malam pun datang dan kami pun pulang. Kali ini kayanya saya cuma berdua sama Papi Budi. Lupa saya, padahal baru 2 minggu yang lalu…
Jumat, 12 Desember 2008. Saya memulai hari dengan mengambil course Matematis yang berat. Discrete Differential Geometry. Sebenarnya saya tertarik dengan aplikasinya pada Animasi berbasis Fisika, tapi ternyata cakupannya lebih luas, jadi ya…ga begitu paham ~__~. Namun harus saya akui, ketiga Profesor yang mengajar course ini mengerikan, dan merupakan kombinasi yang unik. Mengerikan, karena mereka menjelaskan dengan gamblang dengan cara masing-masing. Bukankah seperti itu guru yang hebat?
Kombinasi yang unik, karena terdiri atas 2 orang dengan tampang serius dan satu orang yang tampangnya biasa saja
. Peter Schröder, dengan rambut gondrongnya dan T-shirt -nya yang melekat di badan serta dimasukkan ke celana jeans, mengingatkan saya pada sosok Paul Michael Levesque aka Triple H. Max Wardetzky, yang menurut saya paling mudah dimengerti, berkat analogi yang sering dia pakai. Mathieu Desbrun, penampilannya lebih santai, berbeda dengan dua sebelumnya, tetapi saya yakin beliau menyimpan suatu pemikiran filosofis yang luar biasa. Kenapa? Karena pada salah satu pertanyaan yang dia berikan tersisip sebuah pilihan yang ternyata adalah jawaban atas hidup, dunia, dan segalanya!
Saya harus menyelesaikan course ini sebelum sadar bahwa di buku pedoman course ini dilabeli “Advanced”. Yah, pantesan banyak ga pahamnya ~.~
Malamnya, setelah acara selesai, kami mengikuti makan-makan makan malam, standing party, di Marina Barrage. Makan malam termewah yang pernah saya ikuti. Minumannya champagne (ERRATUM: wine) (walaupun saya ga begitu sreg minum minuman beralkohol, karena saya baru tahu waktu minuman dah habis setengah, ya sudah lanjutkan saja, lagipula sekali-sekali juga gakpapa, belum tentu 5 tahun sekali minum ini
). Makanannya seperti makanan Melayu, satenya seperti sate Ponorogo. Ya, belajar dari pengalaman menghadiri pernikahan model standing party begini yang telah lalu, saat itu saya ga ambil banyak. Kata orang, kekenyangan itu ga baik. Ambillah secukupnya
Saya di sini muter-muter lewat jembatannya. Sayang ga bawa kamera. Kamera HP saya ga bagus untuk motret malam-malam. Aslinya di konferensi ga boleh motret, tapi sebenarnya kalo dah acara di luar begini gakpapa. Lagipula saya ga punya kamera
.
Setelah capek jalan-jalan, ngrecoki boss kami yang lagi nostalgia sama keluarga mantan bossnya, dan akhirnya bisa bersalaman dengan beliau, kami menghampiri teman-teman lab. Dari sini saya semakin sadar kalau…yah, silakan baca post saya yang ini: [link]. Kemudian kami berdua jalan lagi ke dermaga, terus pulang deh.
Sebenarnya kalo berduaan sama cewek asik juga, tapi kok ya saya berduaan sama Papi Budi x( .
Sabtu, 13 Desember 2008. Hari terakhir. Saya banyak mengikuti sesi Technical Paper dan Sketches. Sesi pertama adalah Visual Simulation, bagaimana mensimulasikan gejala alam dengan komputer. Salah satu yang dipresentasikan adalah simulasi api untuk film Hellboy 2.
Sesi kedua yang saya ikuti adalah Non-Photorealistic Rendering. Seperti kita lihat pada game maupun film, biasanya animasi menggunakan model 3D hasilnya ya 3D, tapi dengan teknik ini kita bisa membuat animasi 2D dengan model 3D. Efek 2D seperti cat air maupun arsiran bisa ditampakkan pada animasi. Di sini saya mengajukan sebuah pertanyaan, tapi kok kesannya cupu ya?
Tebar pesona gagal deh
Setelah makan siang, saya mengikuti sesi Urban Modelling. Ya itu, membuat kota secara otomatis. Sebenarnya tidak terlalu cocok dengan riset saya, tapi ternyata ada teknik yang menginspirasi untuk menghubungkan sebuah titik dengan titik lain dalam suatu lingkungan maya.
Untuk sesi terakhir, saya masuk ke sesi Physically-based Animation. Kita memprogram lingkungan untuk mensimulasikan hukum Fisika. Seperti biasa, kebanyakan berurusan dengan Fluid Dynamics. Kok ga ada yang simulasi Fisika Kuantum, String Theory, dll gitu ya?
Mbahmu
Ah ya, saya sebenarnya tertarik untuk meneliti ini nanti waktu PhD. Biar agak ilmiah gitu ;;)
Setelah semua sesi resmi berakhir, sekarang kami menonton film animasi di Electronic Theatre. Ya, selain para ilmuwan, SIGGRAPH juga memiliki sesi ini sebagai ajang unjuk gigi para artis. Saya sudah lupa banyak filmnya (hehe) tapi ada beberapa yang saya ingat. Adegan dari Appleseed: Ex Machina. Sudah pernah nonton bajakannya sih, tapi teknik Non-Photorealistic Rendering yang dipakai keren. Film lain yang menarik buat saya: E.T.A., Fly Out Blue, Hugh, Jungle Jail, Kudan (cuma trailer), Replay, This Way Up (cuma trailer).
Terus pulang, bareng-bareng. Sesampainya di Jurong Point, karena saya sendiri yang naik bus 199 , saya mengucapkan kata perpisahan ke yang lainnya. “Zàijiàn!”
Minggu, 14 Desember 2008. Bangun kesiangan. Ga ke gereja.
Selesai.
Sekedar bukti kalo ini bukan hoax:

Oh iya, sebagai bonus, ini makanan yang saya dan Papi Budi makan saat sebuah makan malam di Suntec (bukan yang di Marina Barrage). Saya makan nasi biryani lauk ayam (foto bawah), Papi makan Thunder Tea Rice (foto paling bawah) (namanya dahsyaaat!!1
).


——————————————
Jadi, prestasi saya adalah:
-
Pertama kalinya minum champagne (ERRATUM: wine). Rasanya? Pahit! Ga suka saya!
-
Pertama kalinya ngobrol dengan orang Hongkong.
-
Pertama kalinya melihat orang Israel.
-
Pertama kalinya makan makanan Korea.
-
Menanyakan beberapa pertanyaan di sesi Technical Paper. Semoga bukan orang Indonesia pertama yang menjadi penanya di sesi ini di konferensi SIGGRAPH sebelumnya.
-
Bersalaman dengan bossnya boss, Tomoyuki Nishita.
-
Bertemu dengan suami istri pionir manusia virtual.
-
Melihat beberapa tokoh Computer Graphics lain, seperti Nelson Max, Kurt Akeley, dll. Coba kalau ada Ivan Sutherland, pasti lebih maknyus lagi. Apalagi Alan Turing, bakal semakin horor…heheh