Indonesian Scientists Abroad
Sabtu kok ngampus…
Pasti ga punya pacar…hahahah 
Dah lama gak ngupdate blog…
Pagi…eh…siang ini baca milis beasiswa@yahoogroups, orang-orang masih pada rame membahas kelanjutan seorang mahasiswa ITB yang pingin pindah jurusan karena merasa ga cocok di jurusan yang diambil sekarang….dan pada email yang terbaru, ada orang yang ngasih link ke berita ini.
Dan kalo baca berita di koran online, aku suka baca commentnya, kadang2 suka bikin rusuh 
Ini comment yang menarik perhatianku :
1. Jika Anda berpikir "dia seharusnya bekerja di Indonesia, apapun kondisinya"….Kalo dia kerja di Indonesia, bisa mencapai prestasi seperti ini juga kah?"tp kerjanya bukan d indonesia , sayang sekali dia tidak mengabdi pada negaranya"
2. Jika Anda berpikir "sayang negara tidak bisa mengakomodasinya"…saya setuju….
Pemerintah lagi sibuk ngurusi Pemilu…*oops*"Dari sekian anak bangsa yg berprestasi di negara orang, kapan pemerintah bisa merekrut mereka demi kemajuan bangsa"
Besok, taun kuda nil…hehehe"keren….. pemerintah RI punya fasilitas kaya gini ga ya..?"

Eh serius…la observatorium Boscha aja lagi bermasalah….ya semoga ada solusinya…
Barangkali demikian…"Di Indonesia sebenarnya banyak orang jenius..Cuma pemerintah tidak peduli pada pendidikan dan kurang peduli pada prestasi anak bangsanya sendiri.Akibatnya kebanyakan orang Indonesia yang berprestasi justru pindah atau bekerja untuk bangsa lain."
Ini yang aku paling suka…hahaha"jangan kembali ke indonesia bung, nanti malah disuruh ngetik di kantor pemerintah"

Ironis…
Haaa…?? *terhenyak, mulut terbuka lebar*"bener kata ****, disini ahli roket ada yang jual es krim keliling!"
Opini saya….
(ga penting sih, tapi…)
Semakin banyak orang Indonesia yang kerja di luar negeri sebagai peneliti semakin bagus…
Kan artinya penduduk Indonesia semakin dikenal atas kemampuannya dalam penelitian…
Ga penting kerja di mana…aku pikir asal ga ngebom atom Indonesia sih ga masalah 
Cuman bisanya kalo gini, ada orang yang bilang "kalo semua orang Indonesia kerja di luar negeri, siapa yang kerja di dalam negeri?"
Masih banyak kok orang yang pingin kerja di dalam…
Aku yakin juga kalo ga semua orang pingin kerja di luar…
IMO bagi tugas lah…ada yang ke luar…ada yang di dalam…
Semuanya bekerja sama untuk memajukan negara kita…
Cuma biasanya kalo gini, ada orang yang bilang mereka tidak nasionalis.
Tapi aku masih bingung, apa bisa diklasifikasikan kerja di luar negeri = tidak nasionalis?
Apakah saya mendukung brain drain..??
Hmmm….bisa dibilang begitu..hehehheh 
Asal tidak lupa dengan kampung halaman, aku pikir ga masalah….
La umpama negara kaco, atau lapangan kerjanya kurang, apa ya cocok kalo orang-orang ini tetap bekerja di dalam dan ilmunya mubazir?
Mending kerja di luar negeri, bisa lebih berguna bagi dunia…
Maaf kalo aku berpikir begini.
Harap maklum ya, karena beberapa role modelku : Abdus Salam, Lotfi Zadeh…
Terima kasih buat Mbak Dominic atas infonya…
dan seumpama Mas Johny Setiawan nyasar ke blog ini…well…salam kenal 
sesama Overseas Indonesian nih…hehehe…
Hey, why are you procrastinating??
This is one of two graduate students’ biggest enemies!!


kalo aku berpendapat sih, jadi scientist tuh ndak mesti harus di Indonesia. Seperti kata teman saya dulu waktu interview, wherever we are, we can contribute to our beloved country, Indonesia. hahaha, aku sendiri mungkin juga berfikir untuk do research di luar dulu, sambil ngumpulin modal buat bikin riset di Indonesia, secara iklim di Indonesia belum bisa mendukung terciptanya suasana riset yang baik hehehe…
(jadi mikir, ntar pas pulang ke Indonesia bisa ga ya riset seperti saat di jepang skarang hehehe)
aku dukung!
no comment…
bentar lagi dah commentnya…
kalo dah overseas jugak…
huehehehe
Lha trus what’s the other biggest enemy?
@yan9n
selamat datang mas
yoi mas…
Abdus Salam pun ikut berperan dalam kemajuan riset di Pakistan dan negara berkembang lainnya dengan pendirian Abdus Salam International Centre for Theoretical Physics. Jadi selama bisa meniru langkah seperti itu, why not?
Ya semoga usahanya berhasil mas.
Aku add ya..
@aftrie
apanya?
la saya ga nyalonken presiden kok :p
@coek34
ditunggu ke overseasnya
(comment saiki yo rapopo kok coek)
@fikri
vortex of unproductivity! what else?
(ket : baca phdcomics, dari taun 97 sampe sekarang)
(urutan penulisan komen ini : fikri - aftrie - coek34 - yan9n, dari yang gampang ke yang paling sulit :p)
Balik…Enggak…Balik…Enggak…Balik…Enggak…Balik…Enggak…Balik…Enggak…Balik…Enggak…Balik…Enggak…Balik…Enggak…Balik…Enggak…Balik…Enggak…Balik…Enggak…Balik…Enggak…Balik…Enggak…Balik ke yang Enggak-Enggak aja deh!
@dina
(
)
kok commentnya malah ngrusak sih
:D
ga tau ah, htmlnya mawut
Hihihihi.. Kalo kata Ayah saya sih, seiring dengan tambah umur, biasanya idealisme makin luntur.
Yang satu lagi apa?
hoho..itulah manusia…terus hubungannya dengan postinganku?
la itu kan dah dijelasin di atas…vortex of unproductivity…
Sekarang gini aja deh,, kerja di dalam negri tapi perusahaan asing gimana hayo?
Saya sepakat tidak ada hubungan bekerja di luar negri adalah tidak memiliki nasionalis.. justru kita prove pada dunia, kalau indonesia bisa berprestasi bukan hanya jago korupsi doang..
bukankah bekerja di luar negri pada akhirnya sama saja dengan atlit2 yang berlaga di pertandingan olah raga internasional?
Daripada kita banyak supply prt ke luar negri, mending supply engineer kan?
- secara saya kerja di luar negri.. 4 a while
@dewi
Welcome to my blog
Na itu…bisa juga jadi salah satu alasan
(bias tuh
)
(kidding)