Sun 31st Aug, 2008, My Experience, Education

Skipping Lecture

Beberapa tahun yang lalu, seorang aktivis BEM di universitasku yang lama bilang (kurang lebihnya) "Sekali-kali mbolos kuliah gakpapa lah". Jika diterjemahkan sesuai konteks waktu itu, gakpapa mbolos kuliah demi kesibukan keorganisasian (BEM).

Barusan dapet email dari profesor di universitasku yang baru, dia bilang "It is not good to skip lecture". Jika diterjemahkan sesuai konteks waktu itu, bahkan demi riset (yang IMO juga menguntungkan buat profesornya), sang objek pelaku tidak boleh mbolos kuliah.

Jadi mana yang bener?

Pikiren dewe nyoh…do duwe utek kabeh toh?

(Kalau aku sih setuju yang kedua emoticon)

PS : Di emailnya profesor itu, aku bukan orang yang dituju. Beliau kirim email ke semua anggota tim, walaupun yang dikirimi sebenarnya hanya 1. Tujuannya adalah untuk diskusi online dan tidak real-time.

——————–
Pelajaran Ad Hominem & Hasty Generalization

Di bawah ini adalah contoh Ad Hominem & Hasty Generalization, yang sebaiknya tidak dilakukan ketika beropini.

"Halah, yang ngomong di kalimat pertama kan cuma aktivis BEM. Aktivis BEM itu bisanya demo dan bikin rusuh! Jangan percayai kalimatnya! Mending ikuti kalimatnya profesor!"

Sat 30th Aug, 2008, My Experience

Aku Sugih

Mak’e….aku sugih mak’e…

emoticon

Sun 24th Aug, 2008, Inside My Brain, My Experience, Age

Their, Our Limited Ages

This day I had a long chat with my mother. Actually I wanted to do my assignment (despite the procrastination emoticon), and almost said that I was busy just to halt the chat. But suddenly this thought came into my mind.

As merely human being, we all have limited ages (well our technology hasn’t been able to make us live eternally, but if even so, I don’t want to…sorry OOT). That means we only have limited time to physically meet our parents.

And then I thought about my friend here, whose mother has passed away years ago when he was still a kid. Certainly he won’t have the experience like me, chatting with his mother.

And then I thought that my parents had already done many things for me, even supporting me before and after I am in new place. So why not gave a little time for them? Maybe she was worried about me? Maybe she wanted to know many things about this place?

(I remember that there is a book author wrote in his book that he thanked his parents just for the same reason as how he was thankful to Adam and Eve. I forget who. Does that mean he only thanks his parents for giving birth for him? If so, of course I disagree with him. Our parents have supported us in many other ways…although some parents don’t)

I don’t want to lose this chance in vain, so I just continued the chat until it was enough for her.

(Homesick already? Bah…)
(BTW it’s raining outside)
(Short post, get back to work…)

Indonesian Scientists Abroad

Sabtu kok ngampus…
Pasti ga punya pacar…hahahah emoticon

Dah lama gak ngupdate blog…

Pagi…eh…siang ini baca milis beasiswa@yahoogroups, orang-orang masih pada rame membahas kelanjutan seorang mahasiswa ITB yang pingin pindah jurusan karena merasa ga cocok di jurusan yang diambil sekarang….dan pada email yang terbaru, ada orang yang ngasih link ke berita ini.

Dan kalo baca berita di koran online, aku suka baca commentnya, kadang2 suka bikin rusuh emoticon

Ini comment yang menarik perhatianku :

"tp kerjanya bukan d indonesia , sayang sekali dia tidak mengabdi pada negaranya"

1. Jika Anda berpikir "dia seharusnya bekerja di Indonesia, apapun kondisinya"….Kalo dia kerja di Indonesia, bisa mencapai prestasi seperti ini juga kah?
2. Jika Anda berpikir "sayang negara tidak bisa mengakomodasinya"…saya setuju….

"Dari sekian anak bangsa yg berprestasi di negara orang, kapan pemerintah bisa merekrut mereka demi kemajuan bangsa"

Pemerintah lagi sibuk ngurusi Pemilu…*oops*

"keren….. pemerintah RI punya fasilitas kaya gini ga ya..?"

Besok, taun kuda nil…hehehe emoticon
Eh serius…la observatorium Boscha aja lagi bermasalah….ya semoga ada solusinya…

"Di Indonesia sebenarnya banyak orang jenius..Cuma pemerintah tidak peduli pada pendidikan dan kurang peduli pada prestasi anak bangsanya sendiri.Akibatnya kebanyakan orang Indonesia yang berprestasi justru pindah atau bekerja untuk bangsa lain."

Barangkali demikian…

"jangan kembali ke indonesia bung, nanti malah disuruh ngetik di kantor pemerintah"

Ini yang aku paling suka…hahaha emoticon
Ironis…

"bener kata ****, disini ahli roket ada yang jual es krim keliling!"

Haaa…?? *terhenyak, mulut terbuka lebar*

Opini saya….
(ga penting sih, tapi…)
Semakin banyak orang Indonesia yang kerja di luar negeri sebagai peneliti semakin bagus…
Kan artinya penduduk Indonesia semakin dikenal atas kemampuannya dalam penelitian…
Ga penting kerja di mana…aku pikir asal ga ngebom atom Indonesia sih ga masalah emoticon

Cuman bisanya kalo gini, ada orang yang bilang "kalo semua orang Indonesia kerja di luar negeri, siapa yang kerja di dalam negeri?"
Masih banyak kok orang yang pingin kerja di dalam…
Aku yakin juga kalo ga semua orang pingin kerja di luar…
IMO bagi tugas lah…ada yang ke luar…ada yang di dalam…
Semuanya bekerja sama untuk memajukan negara kita…

Cuma biasanya kalo gini, ada orang yang bilang mereka tidak nasionalis.
Tapi aku masih bingung, apa bisa diklasifikasikan kerja di luar negeri = tidak nasionalis?

Apakah saya mendukung brain drain..??
Hmmm….bisa dibilang begitu..hehehheh emoticon
Asal tidak lupa dengan kampung halaman, aku pikir ga masalah….
La umpama negara kaco, atau lapangan kerjanya kurang, apa ya cocok kalo orang-orang ini tetap bekerja di dalam dan ilmunya mubazir?
Mending kerja di luar negeri, bisa lebih berguna bagi dunia…

Maaf kalo aku berpikir begini.
Harap maklum ya, karena beberapa role modelku : Abdus Salam, Lotfi Zadeh…

Terima kasih buat Mbak Dominic atas infonya…
dan seumpama Mas Johny Setiawan nyasar ke blog ini…well…salam kenal emoticon
sesama Overseas Indonesian nih…hehehe…

Hey, why are you procrastinating??
This is one of two graduate students’
biggest enemies!!