walah walah, IPDN
wah dah banyak blogger yang kasih pendapat, aku malah telat.
secara garis besar, aku setuju dengan mereka, aku ga pingin ada kekerasan. siapa yg mau preman jadi camat di kecamatanku? tapi aku ga ngutuk deh, kasian dikutuk, mending aku doain biar mereka yg nyiksa itu pada tobat.
banyak yg minta ipdn dibubarkan. wah ga seru kalo aku juga ikut2an. aku coba nawarin solusi lain, tapi lebih terfokus ke siswanya (la wong aku jg masih mahasiswa, blm bisa berpikir dalam konteks pejabat).
ada suatu acara kedamaian / gencatan senjata, yang jadi pengada acaranya, boleh tim investigasi, atau psikolog, atau…dll, tp saya lebih yakin orang luar. terus siswa diacak, ga boleh ada siswa satu angkatan berdekatan. mereka diharuskan kenalan dgn sebelahnya. lihat apa reaksi mereka. icebreaker : acara didiemin dulu, skitar 15 - 30 menit. acara habis itu terserah. bisa juga, mengingat indonesia adalah negara yang katanya religius, ada acara renungan biar smua nangis minta tobat.
habis itu ada tindak lanjut. nah tindak lanjutnya ini yang aku masih ga ngerti. bisa aja ditaruh psikolog di situ, buat konseling. mungkin bisa juga ditaruh agamawan, dikasih ustad, pendeta, romo, biksu, rabbi, dll. oooo, gimana kalo ditaruh polisi / tentara beneran? biar pada kapok yg sok2an mukul itu.
yang aku bingung, gimana mengubah pola pikir para alumnus yang masih mengamini kekerasan di sana? rusak rusak deh. kayanya mending wajib miltier beneran daripada kaya gituan.
my trackback goes to antobilang, yang mau ngadain petisi.

